Rangkuman Inti Buku Saleh Ritual, Saleh Sosial Karya KH A. Mustofa Bisri

 Oleh: Muhammad Safri Muhlis


Buku Saleh Ritual, Saleh Sosial karya dari KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang sering di kenal dengan sebutan Gus Mus, beliau lahir pada tanggal ( 14 Agustus 1944 ). Beliau menerbitkan salah satu buku yang isinya mengenai esai-esai pendek melalui penerbit DIVAPres pada tahun 2016. Dalam Islam kesalehan ritual dan kesalehan sosial merupakan satu kesatuan ibadah yang terpadu, tidak bisa dipisahkan. Kita tidak diperbolehkan hanya mementingkan ibadah sosial atau kesalehan sosial, dan melupakan ibadah ritual atau kesalehan individu, atau sebaliknya, hanya mementingkan ibadah ritual atau kesalehan individu, dan melupakan kesalehan sosial. Kesalehan individu atau ritual identik dengan hubungan seseorang secara pribadi kepada Allah swt. Sementara ibadah sosial identik dengan hubungan seseorang dengan sesama manusia, dan sekaligus hubungan manusia dengan Allah. Ibadah sosial lebih mengutamakan kepentingan orang lain, tetapi berdampak positif juga bagi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, walaupun banyak perintah untuk beribadah dalam agama ditunjukan kepada individu tetapi harus berdampak dalam kehidupan sosial yang nyata, termasuk dalam ibadah puasa yang sering dijalankan kaum muslimin. Puasa bukan sekedar kewajiban tahunan yang diperintahkan Allah bagi orang-orang beriman agar mereka menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa memiliki implikasi terhadap individu maupun sosial. Puasa merupakan bentuk ibadah yang memancarkan hikmah bukan saja bagi pembinaan kesalehan individual, melainkan juga bagi peningkatan kesalehan sosial. Oleh karena itu, dalam salah satu esai yang terkumpul dalam buku ini,K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, penulis buku ini,melandaskan bahwa bulan puasa adalah momentum terbaik untuk mengoreksi diri. Pada bulan penuh berkah tersebut, suasana di luar dan terutama di dalam batin kita rasanya sangat mendukung untuk peningkatan mutu keimanan, keberagamaan, dan kemanusiaan kita. 

Mengenali diri sendiri merupakan kunci utama untuk mengetahui cara mengenal allah swt. Tanpa memahami diri kita, kita akan sulit memahami hal lain, termasuk mengenal allah. Hal yang di jelaskan rasulullah SAW,bersabda , '''Man ‘arafa nafsahu ‘arafa Rabbahu”   “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Di sisi lain, banyak umat muslim mengaku ia mencintai Allah. Padahal, kebanyakan beribadah pun jarang larangan pun sering dilanggar. Nampaknya, tidak sedikit umat muslim yang belum tahu cara mengenal Allah dengan benar.

Adapun cara mengenal diri sendiri sebelum mengenal Allah

Diri kita adalah prioritas, kenapa saya harus bilang torang pe hidup adalah prioritas? karena torang harus tentukan tujuan hidup, karena setiap aspek dalam hidup, kita tentukan target atau tujuannya. Misalnya nih, saya berusia 17 tahun berarti saya harus tetapkan tujuan yang ingin dicapai dengan jangka waktu tertentu, torang harus fokus pada tujuan itu, mana target yang harus dicapai terlebih dahulu? Jadikan tujuan atau target itu sebagai prioritas dalam hidup. Untuk itu, mengenal diri sendiri sebelum memahami cara mengenal Allah SWT. Itu nggak ada salahnya, jadi bagaimana cara mengenal diri sendiri sebelum mencari cara mengenal Allah ?

1.        Hargai Diri Sendiri

Kamu pasti di suatu waktu merasa kesal dengan dirimu sendiri. Sehingga yang kamu lakukan adalah merendah-rendahkan atau menjelek-jelekan dirimu. Padahal setiap orang pasti memiliki kekurangan. Dan sebaliknya setiap orang juga punya kelebihan.

Maka dari itu, kamu perlu menghargai diri sendiri sebelum menerapkan cara mengenal Allah. Kalau kamu belum bisa menghargai diri sendiri, Bagaimana kamu bisa menghargai hal-hal yang diciptakan Allah?

2.       Buang Jauh-jauh Kenangan Buruk

Membuang di sini bukan berarti kamu melupakanya, nampaknya itu tidak mungkin. Maksudnya adalah kenangan buruk yang ada di masa lalu nggak seharusnya kamu pikirkan. Jadikan kenangan buruk itu sebagai pelajaran di masa sekarang dan akan datang.

3.       Berusaha Mengubah Diri

Memang kita sebagai manusia ingin menjadi lebih baik dan dalam segala aspek. Namun hal itu bukan berarti kamu harus mengubah diri mulai dari kepribadian bahkan hal fisik. Cintailah dirimu sendiri dengan menerima dirimu apa adanya.

Adapun juga cara mengenal Allah dan diri sendiri

Setelah mengenal diri sendiri, sudah seharusnya kita memperaktikan cara mengenal Allah. Namun, bagaimana bila cara mengenal Allah dilakukan sembari mengenal diri itu sendiri ?

1.       Berdoa

Cara mengenal Allah sembari mengenal diri sendiri adalah dengan cara berdoa. Dengan berdoa itu berarti kita menjalankan cara mengenal Allah tanpa kita sadari. Sedangkan doa yang dipanjatkan adalah memohon dikenalkan siapa diri kita menurutnya.

2.       Mengenal diri zahir

Zahir merupakan diri kita yang berupa fisik, seperti batang tubuh yang di lengkapi dengan kaki, tangan, mulut, mata, hidung dll. Dengan memahami diri kita secara zahir, hal ini juga secara tidak langsung mengaplikasikan cara mengenal Allah. Sebab, kita menjadi bersyukur atas apa yang diberikanya pada diri kita, sesuai dengan apa yang dikatakan Allah dlm surat at-Tin ayat 4 “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.

Gus Mus berkata di dalam bukunya bahwa kita seharusnya memiliki satu momen khusus untuk memisahkan diri kita dari diri itu sendiri. Bingungkan? Memisahkan diri dari diri sendiri berarti mengambil jarak dari diri kita. Setelahnya kita akan mampu mengadakan dialog yang sangat pribadi, yang sangat mendalam. Hanya dengan begitu kita mampu membuat koreksi atas diri kita sendiri. “Tanpa membuat jarak terhadap diri sendiri sedemikian rupa, kiranya sulit dibayangkan kita dapat melakukan penilaian-penilaian internal diri menurut ukuran-ukuran yang mendekati objektif,” tulis Gus Mus di dalam bukunya.

Setelah melakukan dialog dengan diri sendiri, kita akan menemukan kekurangan-kekurangan dalam diri. Beberapa harus diterima dengan lapang dada, beberapa harus dilakukan koreksi dan kemudian dilakukan perbaikan. Menata dan menempatkan diri sebagai sebaik-baiknya manusia kepada manusia, dan sebaik-baiknya hamba yang melakukan pendekatan pada Tuhannya, yakni dengan mempergunakan sebaik-baiknya karunia yang hanya diberikan Tuhan pada manusia: hati nurani dan akal sehat. Menggunakan analogi dari Sufi ternama, Imam Ghozali, Gus Mus menuliskan bahwa manusia layaknya sebuah kerajaan, di mana hati nurani adalah raja dan akal sehat adalah perdana menteri. Sedangkan indra dan anggota tubuh lainnya adalah pembantu yang harus tunduk pada perintah raja, bukan sebaliknya. Pengibaratan-pengibaratan tersebutlah yang disebut Gus Mus sebagai momen dialog dengan diri sendiri. Hati nurani sebagai raja bertindak untuk mengambil keputusan, kenapa saya bilang demikian? karena hati nurani atau suara hati berperan terutama saat kita mau mengambil sebuah keputusan. Ia dapat didefenisikan sebagai suatu kesadaran moral seseorang dalam situasi yang kongkret. Artinya, dalam menghadapi peristiwa dalam hidup kita, ada semacam suara dalam hati kita untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan dan menuntut kita bagaiman merespon kejadian tersebut. Suara hati yang baik dapat menjadi kompas moral dan menentukan kita menjadi pribadi yang berperilaku positif. Jadi, hati nurani juga dapat dikatakan sebagai sebuah perasaan moral dalam manusia, yang denganya dia memutuskan mana yang baik dan jahat,dan mana yang menyetujui atau menyalahkan perbuatanya.

Akal sehat sebagai perdana menteri yang bertugas memberi masukan atau mempertimbangkan hal-hal yang dilihat atau didengar lewat indera penglihatan atau pendengaran. Ini berarti bahwa akal dapat berfungsi setelah ada informasi yang bersifat empirik dari indera yang lain. Lalu bagaimana dengan  fungsi akal untuk pemikirkan hal-hal yang bersifat abstrak? Hal-hal yang bersifat ghaib? Mempertimbangkan bahwa akal dapat berfungsi ketika ada informasi yang bersifat empiri dari panca indera yang lain, ini berarti akal akan berfungsi sebagaimana mestinya untuk hal-hal yang bersifat dapat diraba dan didengar. Adapun untuk hal-hal yang bersifat ghaib atau abstrak diperlukan petunjuk khusus, yakni wahyu (Agama). Dengan begitu, meskipun di dalam al-Qur’an sangat ditekankan pada penggunaan akal dalam setiap persoalan, namun di sisi lain akal sehat sangatlah membutuhkan wahyu (Agama) atau lebih tepatnya religiusitas dalam menimbang hal-hal yang bersifat abstrak (Ghaib)

Indra dan organ-organ lain sebagai pembantu yang melaksanakan kehendak dari rajanya. Hanya dengan menyatu-pisahkan bagian-bagian itu kita bisa memberi koreksi terhadap diri. Bercermin kepada perumpamaan yang dibuat oleh Imam Al-Ghazali, kita bisa melihat diri kita sendiri dalam kaitanya dengan mekanisme peran dan hubungan perangkat kelengkapan diri yang di anugrahkan Allah kepada kita sebagai manusia yang hamba dan sekaligus khalifah-nya di bumi ini. Ini adalah penilaian yang hanya dapat dilakukan oleh kejujuran diri kita sendiri. Logikanya, toranglah yang tau tentang torang pe diri sendiri, begitulah sebutannya bagi orang Timur. Dan apakah hati nurani yang menjadi raja diri kita sendiri telah berperan atau diperankan sebagai sebenar-benarnya raja, ataukah hanya sekedar boneka asung. Apakah akal pikiran yang menjadi perdana mentri mengetahui kedudukan dan kewenanganya? Lantas kapan waktu yang sangat baik untuk kita melakukan dialog dengan diri kita sendiri? Jawabannya adalah bulan ramadhan, menurut Gus Mus. Sebagai muslim, kita percaya bahwa momen ramadhan adalah momen penuh berkah. Tuhan membuka seluas-luasnya pintu ampunan bagi kita yang meminta. Pintu berkah juga dibuka seluas-luasnya untuk hamba-Nya yang mencari.

Untuk itulah Gus Mus mengatakan bahwa ramadhan adalah waktu yang sangat mendukung untuk peningkatan mutu keimanan, keberagaman, dan kemanusiaan. Dengan begitu kita dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan, ilahiyah makrifat allah! semoga allah menolong kita.

Penutup

Dari kisah Kiai Basuni kita bisa menarik hikmah bahwa seorang yang telah mampu menyatukan kesalehan ritual dan sosial dalam satu tarikan nafas, hati dan dirinya selalu diliputi rasa cinta kepada sesama, dan sebagai imbalanya semua orang pun akan mencintainya. Sementara menurut sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah yang dikutip dalam buku ini dijelaskan bahwa ketika warga bumi telah mencintai seseorang, maka warga langit pun akan ikut mencintai, begitu pula sebaliknya. Harapan saya cuman satu : Semoga dengan adanya buku ini bisa bermanfaat untuk kita semua terutama kepada penulis buku ini, dan semoga kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bisa mencintai sesama manusia satu sama lain.
Reactions

Posting Komentar

0 Komentar