Review
Film: Mustang (2015)
Oleh: Amanda Simbala
Hai
Sahabat-Sahabati…Salam Pergerakan! Apa kabar semuanya? Penulis berharap semoga
kalian selalu dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apapun, aamiin. Kali
ini penulis kembali dengan artikel yang berangkat dari sebuah film Turki
berjudul Mustang yang dirilis pada tahun 2015 dengan sutradaranya yang juga
adalah seorang perempuan bernama Deniz Gamze Erguven selaku penulis naskah film
Mustang. Film ini bercerita tentang hidup lima orang gadis kakak-beradik yang
telah lama yatim piatu dan diasuh oleh paman dan neneknya, mereka hidup di
lingkungan keluarga pun lingkungan orang-orang yang bisa dibilang konservatif,
Kira-kira gitu tuh sinopsisnya, tenang aja penulis gak bakalan spoiler kok
kalau penasaran sama filmnya kalian bisa langsung search di google. Sooo… dari
judul kali ini penulis akan membahas dari segi budaya, ketimpangan dan hak.
Seperti yang kalian ketahui di
Indonesia sendiri terdapat banyak sekali budaya, kita semua mengerti bahwa
budaya patut untuk kita lestarikan, akan tetapi tidak semua budaya harus kita
lestarikan yang kalau pada akhirnya ada orang-orang terutama perempuan yang
tersiksa karena ketidakadilan yang ada didalam budaya tersebut. Bisa dikatakan
bahwa budaya merupakan tradisi pun kebiasaan yang ada dalam masyarakat.
Beberapa budaya yang ada dalam film ini seperti pernikahan anak dibawah umur
dan pemaksaan perjodohan yang hingga sekarang masih sering terlihat di beberapa
daerah di Indonesia, pengambilan keputusan yang harus selalu terpaku pada
laki-laki entah di lingkungan keluarga pun dalam sebuah forum, serta budaya
patriarki yang terpampang nyata gak hanya dalam film ini tapi juga masih relate dengan masyarakat disekitar kita.
Bicara soal budaya patriarki disitu
pasti ada yang namanya ketimpangan gender, dan jika dilihat dari film mustang
ada beberapa ketidakadilan yang terlihat seperti persoalan perempuan yang
diharuskan untuk tetap berada didalam rumah dan memasak serta menata rumah dan
untuk melayani laki-laki yang terkesan karena dipaksa. Dalam film ini ada juga scene dimana salah satu tokoh bernama
Lale meminta izin untuk pergi melihat pertandingan sepakbola dan tidak
diizinkan oleh pamannya karena ketakutan pamannya lale bisa bergaul terlalu
luas dengan laki-laki. Stigma bahwa permainan bola merupakan permainan yang
lebih cocok digemari oleh laki-laki sehingga kegemaran lale terhadap bola tidak
diidahkan hanya karena dia seorang perempuan. Persoalan mengurusi anak, dimana ada
scene ketika anak-anak perempuan
berbuat salah dan pamannya menyalahkan Ibunya untuk kesalahan yang dibuat
anak-anak, serta scene yang dimana
neneknya meminta saran dari temannya yang sesama perempuan dan temannya
mengatakan itu bukan salah paman Erol tetapi salah neneknya karena tidak
mengerjakan perannya dengan sempurna. Dalam mengurusi anak, menyalahkan figur
sosok Ibu atas semua kesalahan yang dibuat anak-anak dirasa kurang tepat karena
seharusnya menjadi tanggungjawab kedua orangtua yang mengurusi mereka tidak
hanya orang tua perempuan, baiknya untuk sama-sama intropeksi diri sekaligus
mencari solusi bersama dari sebuah masalah. Satu lagi diskriminasi yang ada
pada film ini yang mengkritik tentang stigma keperawanan, perempuan yang tidak
mengeluarkan darah pada saat berhubungan seksual pertama kali sering di cap
sebagai perempuan yang tidak perawan yang artinya terkonstruk pada pikiran
bahwa perempuan tersebut ‘bukanlah perempuan yang baik’ padahal selaput darah
masing-masing perempuan berbeda, ada perempuan yang mempunyai selaput darah
tebal atau tidak mudah sobek sehingga kenapa ketika berhubungan seksual sekali
maupun dua kali tidak ada darah yang keluar , ada juga perempuan yang memiliki
selaput darah yang tipis yang ketika dia beraktifitas seperti berolahraga atau
karena kecelakaan selaput darahnya mudah sobek. Menjadi pertanyaan kenapa
perempuan selalu dipertanyakan persoalan keperawanannya sedangkan laki-laki
tidak pernah dipertannyakan keperjakaannya. Penulis berharap bahwa stigma
tentang keperawanan pada perempuan tidaklah lagi menjadi syarat pun kewajiban
untuk dilihat pantas atau tidak pantaskah perempuan dikatakan suci dan baik,
perlu untuk mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dialami perempuan.
Dalam film ini ada hak-hak perempuan
yang diambil paman dan neneknya dengan dalih untuk mengupayakan menjaga nama
baik keluarga sekaligus menjaga agar anak-anak perempuan tersebut tetap menjadi
perempuan ‘suci’ seperti yang diinginkan paman dan neneknya, yaitu hak untuk
bersosialisasi/bergaul, hak untuk sekolah, hak untuk menggunakan alat
elektronik seperti hp, telepon, komputer juga internet yang tidak diberikan,
hak untuk bermakeup dan menggunakan pakaian yang mereka inginkan.
Film ini menggambarkan pola budaya
seperti di atas tadi yang ketika diterapkan akan terjadi bentuk pola asuh yang
dirasa kurang cocok, dampaknya pun bisa dirasakan baik mental maupun fisik.
Mustang memberikan pesan sekaligus kritik dari segi moral, agama hingga budaya
semuanya dikemas dengan sangat apik, natural dan terlihat tidak
dilebih-lebihkan, film ini seperti berteriak kepada sistem yang masih ada
sampai saat ini serta eksploitasi terhadap kebebasan anak muda terutama
perempuan yang masih mecoba mencari jati dirinya.

0 Komentar