Oleh: Amanda Simbala
Jika sempat membaca tulisan saya yang berjudul Beauty 4.0 Standarisasi Mahasiswa Saat Ini, tulisan tersebut ada kaitannya dengan artikel yang sedang kalian baca saat ini, namun jika artikel yang sebelumnya membahas lebih ke standar kecantikan yang dimana ketika berbicara itu maka yang terlintas lebih banyak berbicara dari segi perempuan, tulisan kali ini akan membahasnya secara umum karena kurang lebih baik dari laki-laki maupun perempuan mengalaminya, dimana dua tulisan saya ini ada kaitannya juga dengan quarter life crisis. Sekedar info tulisan ini mulai saya buat ketika akhir tahun 2020 kemarin dan saat itu di media sosial sempat ramai bertabur topik pembicarakan tentang quarter life crisis, oleh karenanya kenapa tulisan ini saya barengi dengan topik tersebut.
Body Image Bagi laki-laki dan perempuan
Pernahkah kalian mendengar celetukan dari teman laki-laki yang mengatakan tentang ketidakpuasan terhadap salah satu atau beberapa bagian tubuhnya sendiri? Atau mungkin pernah menyaksikan teman laki-lakinya di-bully karena sesuatu yang dianggap tidak sesuai pada dirinya? Mayoritas dari kita pernah menemukan hal-hal seperti itu di kehidupan hampir setiap hari, bisa saja kamu lupa ketika membaca artikel ini dan mencoba mengingatnya atau jika kamu sering menjadi pelaku akan berpura-pura untuk tidak mengingat hal itu. Perilaku seperti diatas merupakan Body Image, body image adalah attitude, pandangan maupun persepsi seseorang terhadap fisik, hal ini bersifat subjektif karna adanya di kepala atau bisa kita sebut dengan mental image, yang dibagi dalam dua hal yaitu body image positif dan negatif, di mana setiap orang mempunyai kedua-duanya akan tetapi ada yang lebih dominan, jika body image positif mereka merasa puas dan tidak mengkritik tubuhnya secara berlebihan, lebih bisa menerima diri apa adanya, percaya diri walaupun tidak sempurna dan atau tidak sesuai dengan standar masyarakat, dan yang terpenting orang yang mempunyai body image positif lebih berpikir sadar bahwa dirinya lebih dari sekedar penampakan luar saja. Sedangkan Body image negatif yaitu perilaku yang tidak puas dengan bentuk fisiknya serta mengkritik berlebihan pada diri, tidak percaya diri, malu serta ingin mengubah bentuk fisik.
Jangan salah dulu sahabat-sahabati, body image ini bukan hanya ada pada laki-laki saja, ketika mendengar body image yang terlintas pasti hanya pada perempuan, karenanya kenapa di awal saya menanyakan pertanyaan ke laki-laki karena laki-laki pun hampir semua atau bahkan mayoritas pernah merasakan dampak dari body image, namun jika dilansir dari artikel Maggie A. Brennan, Christopher E. Lalonde, Jody L.Bain - Body Image Perceptions : Do Gender Differences Exist? (University of Victoria) mengatakan bahwa memang perempuan lebih menginternalisasi kalau mengenai fisik atau terlihat lebih dominan mempengaruhi perempuan. Namun kenapa jika berbicara body image yang terlintas di kepala kita mengenai citra tubuh perempuan? Karena perempuan lebih sering speak up atau menyuarkan masalah ketidakpuasan mengenai bentuk tubuh mereka maupun orang lain dibandingkan laki-laki yang mempunyai body image negatif tetapi tidak terlalu memperdulikannya, masih baik ketika berfikir hanya untuk tidak terlalu memperdulikannya saja, tetapi ada beberapa yang berfikir mereka bukanlah perempuan yang hanya fokus pada penampilan, jika ada yang kurang mereka memilih diam diakibatkan streotype kepada laki-laki yang harus selalu merasa puas, tidak banyak mengeluh dan mengandalkan power, itulah mengapa lebih sering orang mendengar body image tentang perempuan saja. Padahal baik laki-laki maupun perempuan pernah berada di posisi memandang tubuhnya ke arah positif maupun negatif sama-sama pernah berada di posisi yang namanya ‘memikirkan penampilan’. Body image tidak hanya menjangkit perempuan, laki-laki juga bisa insecure parah pada fisik sendiri, karena berdasarkan artikel The Relationships Among Body Image, Masculinity – Samantha Daniel seorang psikolog Fayetteville State University, North Carolina, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 95% laki-laki merasa ada satu atau beberapa aspek dalam fisik mereka yang tidak disukai dan atau tidak merasa puas. Kebanyakan laki-laki tidak merasa puas pada berat badan, tinggi badan dan kecatatan fisik kecil maupun besar sedangkan untuk perempuan tinggi badan tidaklah terlalu menjadi patokan mereka lebih banyak berfikir pada berat badan, wajah, bokong, juga kecacatan fisik. Adapun beberapa hari yang lalu ketika saya membuat story Ask & Questions di instagram, saya mendapati teman media sosial yang tiba-tiba menanyakan pendapat saya mengenai kata Insecure dan akan saya jawab di tulisan ini, bisa dibilang insecure juga adalah kata lain dari body image negatif yang dimana menggambarkan perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa gelisah, takut, malu, hingga tidak percaya diri. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menjadi insecure, mulai yang berasal dari luar atau dari dalam diri sendiri bisa jadi berasal dari perasaan malu atau tidak percaya diri atau berangkat dari pengalaman tidak baik maupun cara pandang yang salah. Insecure tidak hanya soal penampilan tapi juga soal isi kepala dan skill, namun kebanyakan orang memikirkan soal penampilan maka saya akan lebih condong menjawab ke penampilan, sebenarnya wajar-wajar saja jika kita pernah berada dalam posisi ini, saya pun pernah mengalami dan mulai merasakan dari semenjak sekolah menengah pertama, bisa jadi faktor yang melibatkan insecure itu sendiri berasal dari dalam lingkaran keluarga ataupun lingkungan sekitar dan untuk mengatasinya saya rasa tidak perlu untuk membuat semua orang satu persepsi dengan kita, yang diperlukan adalah kesadaran diri sendiri tapi cobalah untuk tidak terlalu pin point pada kekurangan diri sendiri, kita harus sadar tiap manusia ada kekurangan maupun kelebihan yang tidak dimiliki orang lain begitupun sebaliknya, bukankah melelahkan kalau hanya berfokus di satu itu saja dan lupa menggali apa-apa yang sebenarnya menjadi kelebihan kamu, jangan lupa juga untuk selalu mencari lingkungan maupun kegiatan yang baik yang bisa membantu kamu berkembang di hal-hal positif, itu saja sudah merupakan salah satu dari bentuk kamu mencintai diri sendiri.
Quarter Life Crisis Dengan Body Image
Seiring beranjak dewasa—walaupun tidak menjamin pikiran manusia akan dewasa dengan bertambahnya umur—kita lebih banyak bingung serta bimbang dengan kehidupan sendiri, kita lebih banyak disodorkan dengan pilihan-pilihan hidup. Inilah yang dinamakan Quarter Life Crisis (QLC), sering merasa tidak nyaman, kesepian hinggah depresi dalam hidup dikarenakan perubahan besar maupun tekanan pada masa transisi dari remaja ke dewasa, banyak sekali pilihan hingga bingung menentukan apa yang sebenarnya benar-benar dibutuhkan. Dampak dari Body Image sangat berpengaruh juga atau ada kaitannya pada fase QLC ini yang di mana merasa tidak bahagia menjalani rutinitas yang dilakukan, merasa minder melihat teman yang ada di medsos, lebih sadar bahwa segala hal tidak selalu berjalan sempurna, merasa tidak bahagia walaupun memiliki segudang prestasi. Salah satu pemicunya yaitu ekspektasi dari orang lain, banyaknya pilihan dalam hidup, serta pertamanan yang semakin mengerucut, perlu kita sadari bahwa setiap orang pasti akan melewati fase ini dan yang perlu kita lakukan adalah melakukan apa yang benar-benar membuatmu nyaman dalam artian tidak hanya sekedar mengikuti tren atau dari omongan orang lain, lebih bisa memilah mana lingkungan ataupun orang-orang yang ternyata banyak memberikan dampak positif dan mana yang memberikan dampak negatif, dengan begitu akan lebih banyak motivasi dalam diri kamu, tidak terlalu membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang mempunyai porsinya masing-masing maka dari itu perlu untuk cari tahu tahu potensi diri entah itu dimulai dari hobi baru yang membuat lebih bahagia dan bisa mengurangi stres.
Karena body image erat kaitannya dengan beauty standard perlu kita meghilangkan stigma akan penyakit yang mempengaruhi fisik. Pengaruh body image sangat nampak menimbulkan depresi, merasa anxious, pengaruh kesehatan fisik, anorexia, bulimia, body dismorphic disorder atau BDD yaitu obsesi melihat diri sendiri di kaca dan pin point terhadap kekurangan. Dengan kata lain, tulisan ini bukanlah untuk menakut-nakuti salah satu fase hidup yang ada, namun kiranya lewat tulisan ini memberikan sedikit gambaran tentang dampak dari bagaimana ketika kita terus-terusan mengadopsi body image negative dalam diri yang ternyata berdampak juga pada fase hidup yang mungkin nantinya akan di lewati.

0 Komentar