Membangun Pola Kaderisasi Milenial di Kampus Vokasi

 Oleh : Satria M Farhan


Kaderisasi PMII pada hakekatnya adalah totalitas upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis  dan berkelanjutan untuk membina dan  mengembangkan potensi dzikir, fikir, dan  amal soleh pada setiap warga pergerakan.

Dan penulis melihat hari ini PMII dihadapkan persoalan pola kaderisasi yang belum ter-upgrade untuk menghadapi pergantian generasi. Generasi Y (milenial) dan Generasi Z menjadi pokok persoalan pola kaderisasi PMII hari ini dan untuk beberapa tahun kedepan dan berkenaan dengan adanya pola kaderisasi yang tak efektif jika diaplikasikan ke generasi hari ini dan beberapa tahun kedepan karena adanya perubahan sifat dan karakteristik dari masing-masing generasi.

Mengapa perlu adanya pengembangan pola kaderisasi sesuai pergantian generasi? Karena setiap generasi memiliki warna dan karakteristik yang berbeda-beda dan adanya benturan karakter dari tiap-tiap generasi yang mengakibatkan kurangnya minat untuk berproses di PMII. Dari dinamika seperti ini harus adanya pengembangan pola kaderisasi mengikuti pergantian generasi dan karakteristiknya masing-masing.

Dari penulis berkeyakinan bahwa PMII bukanlah organisasi yang diciptakan untuk bertahan satu atau dua generasi, melainkan untuk bertahan bahkan untuk beribu-ribu generasi. Untuk itu diperlukan pengembangan pola kaderisasi yang diterapkan selaras dengan pergantian generasi agar PMII sesuai dengan doa dari setiap anggotanya yang semoga terealisasi, panjang umur pergerakan.

Membangun Pola Kaderisasi Milenial

Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Dan kaderisasi di PMII itu sendiri adalah satu hal yang mutlak dan totalitas dalam upaya yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan untuk membina dan  mengembangkan potensi dzikir, fikir, amal soleh pada setiap warga pergerakan.

Membangun pola kaderisasi milenial adalah suatu gagasan yang dipikirkan pasca  melihat pola kaderisasi PMII yang dipandang ada beberapa metode yang kurang efektif jika diaplikasikan ke generasi hari ini dan belum sepenuhnya bisa mengatasi persoalan karakteristik dari masing-masing generasi ke generasi karena terdapat perbedaan yang cukup signifikan dari karakteristik tiap generasi. Oleh sebab itu dalam hal ini pola kaderisasi milenial dipikirkan untuk menjadi tambahan referensi untuk PMII dalam menghadapi persoalan kaderisasi hari ini dan untuk beberapa tahun yang akan datang. Pola ini juga diharapkan mampu menambah ketertarikan mahasiswa umtuk bergabung dan berproses di PMII.

Teori landasan yang digunakan penulis dalam hal ini adalah tulisan dari Addin Jauharudin ,MM (Ketua Umum PB PMII 2011-2014).

“Teori Perbedaan Generasi oleh Yanuar Surya Putra (2016) Terdapat 6 generasi yang hidup berdampingan berurutan yaitu: Generasi Veteran (kelahiran tahun 1925 – 1946), Generasi Baby Boomers (kelahiran tahun 1946 – 1960), Generasi X (kelahiran tahun 1961 – 1980), Generasi Y atau Generasi Milenial (kelahiran tahun 1981 – 1994), Generasi Z (kelahiran tahun 1995 – 2010), dan paling muda adalah generasi Alpha (kelahiran tahun 2011 – sekarang).”

"Masing – masing generasi membawa warna dan karakteristik sendiri, Generasi Baby Boomers memiliki karkateristik yang cenderung hidup mandiri dan sangat menghargai adat istiadat juga tidak suka menerima kritik uang dan pengakuan dari lingkungan adalah target mereka. Gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial. Pandangan akan pekerjaan dan kehidupan pribadi para Baby Boomers tidak seimbang, dimana generasi ini menganggap bahwa hidup untuk bekerja. Namun demikian, loyalitas dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.

Generasi X lebih memiliki pemikiran yang sedikit lebih maju dan suka mengambil risiko dan generasi ini cenderung suka akan risiko dan pengambilan keputusan yang matang akibat dari pola asuh dari generasi sebelumnya, Baby Boomers. Selain itu, dari segi teknologi informasi, generasi ini mulai mengenal yang namanya komputer sehingga generasi ini mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah kehidupan manusia.

Generasi Y atau Generasi Milenial adalah generasi yang terlahir pada awal era globalisasi dimulai sehingga banyak perubahan yang terjadi di era ini sehingga orang – orang di generasi ini memiliki karakteristkik yang lebih kompleks antara lain melek teknologi, memiliki banyak ide – ide yang cemerlang dan visioner, generasi ini lebih seimbang selain menyukai pekerjaan kantoran pada generasi ini juga mulai banyak yang memiliki jiwa entrepreneur.

Generasi Z memiliki karakteristik yang lebih bebas, suka dengan gadget, fashion, travelling, sangat aktif di media sosial sehingga jika dihadapkan dengan pekerjaan yang menghasilkan uang generasi ini lebih mudah mendapatkan uang dengan fasilitas media social yang sudah mereka kenal dari usia dini dengan mengandalkan kreatifiasnya masing – masing.

Generasi Alpha belum dapat di definisikan namun di generasi ini akan terasa semakin tipis batas – batas antar negara karena sejak kecil generasi ini telah mengalami perkembangan teknologi yang seakan tidak ada sekat antar pulau, benua dan negara.”

“Dari data BPS Proyeksi Penduduk Indonesia 2015 – 2019, bahwa dari demografi Indonesia generasi Y atau Generasi Milenial memiliki jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, sehingga saat Generasi Milenial mencapai usia produktif Indonesia akan memiliki jumlah usia produktif terbesar sepanjang sejarah dengan jumlah pria dan wanita hampir seimbang dan memiliki karakteristik Generasi Milenial yang menurut penelitian lebih seimbang dari generasi lainnya”.

“Dari sebaran tersebut dapat disimpulkan bahwa Generasi Milenial akan menjadi jembatan penghubung antara generasi X dengan generasi Z + Alpha yang menjadi sangat penting karena perbedaan karakteristik antara Generasi X dengan Generasi Z sangatlah signifikan. Beberapa tahun lagi sebagian besar generasi Z akan memasuk usia kerja / produktif sehingga pentingnya mempersiapkan generasi Milenial sebagai pemimpin-pemimpin untuk melanjutkan tongkat estafet memajukan bangsa Indonesia”.

Generasi milenial dan generasi Z menjadi fokus utama pada pembahasan kali ini, dan dari kedua generasi ini memiliki karakteristik negative yang juga perlu diatasi. Antara lain :

Generasi milenial dan generasi Z cenderung ingin semua hal terjadi secara instan dan kurang menghargai suatu proses.

Generasi ini memang hebat dal hal teknologi tetapi menjadi dampak negative ketika mereka terlalu berlebihan dalam menggunakan teknologi yang berakibat berkurangnya dialog social di antara mereka karena mereka lebih nyaman denga dunia gadget mereka masing-masing.

Ketika sudah berkurangnya dialog social maka akan berkurangnya juga adab atau etika mereka dalam bermasyarakat.

Karena berlebihan dalam penggunaan media social generasi ini menjadi banyak memahami sesuatu secara berlebihan sehingga sesuatu yang dianggap tabu atau melanggar norma agama sekarang menjadi hal yang lumrah bagi mereka.

Didasari kutipan di ataslah sehingga pola kaderisasi milenial bisa terpikirkan. Melihat adanya perbedaan karakteristik antara tiap generasi dan merasakan langsung pola kaderisasi yang perlu adanya pengembangan di setiap pergantian generasi terhadap anggota maupun kader di PMII. Dalam hal ini penulis mencoba menggunakan pola kaderisasi sesuai karakteristik dari Generasi Y (milenial) dengan tetap mencapai tujuan yang sama sekaligus meningkatkan tingkat ketertarikan mahasiswa untuk bergabung dan berproses di PMII dengan cara kaderisasi yang cocok dengan karakteristik mereka seperti yang telah dipaparkan pada kutipan landasan teori diatas.

Dengan melihat karakteristik kaum milenial sendiri pola kaderisasi ini mencoba mencocokkan dan mengatasi beberapa karakter. Meangaktualisasi paradigma menggiring arus yaitu melakukan pendekatan lewat kebiasaan mereka tetapi outputnya menggunakan karakteristik PMII itu sendiri, seperti melakukan pendekatan secara emosional lewat cara-cara yang sesuai dengan karakteristik mereka seperti pendekatan melalui hobi, melakukan pertemuan secara intens di kehidupan sehari-hari dengan tidak lupa tetap memperkenalkan sekaligus membiasakan adab dan budaya dalam PMII, bisa juga menggunakan teknologi media social dalam bentuk  memperkenalkan PMII lebih detail seperti budaya dan adab dalam ber-PMII secara menarik mengikuti perkembangan trend saat itu.

Pembangunan emosional menjadi lebih mudah dan dekat karena kecenderungan kaum milenial yang suka membagikan apa saja yang mereka rasa atau yang mereka punya ke orang-orang di sekitar mereka bisa juga dijadikan daya tarik anggota karena kecocokan pola kaderisasi milenial dengan karakteristik Generasi Y (milenial) itu sendiri maupun dengan Generasi Z yang sebentar lagi akan sampai di masa proses produktif mereka.

Dengan melihat kecenderungan mereka yang cepat bosan dengan sesuatu maka pola ini mengimprovisasi beberapa program kerja seperti diskusi yang biasanya dilaksanakan di ruangan kelas atau aula mungkin sesekali dialihkan ke lokasi alam terbuka agar tidak muncul rasa bosan mereka karena diskusi monoton dilaksanakan di ruang kelas atau aula. Bisa juga diskusi di tempat yang santai seperti kedai kopi, caffe, atau sebagainya agar suasana menjadi rileks dan tidak membosankan.

Tetapi dengan catatan dalam pendekatan emosional harus ada jarak-jarak yang diperhatikan agar tidak muncul sifat menganggap remeh antara angota baru dengan para anggota yang lebih dulu berproses.

Tantangan Kaderisasi di Kampus Vokasi

Kampus vokasi adalah pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu, kampus vokasi bertujuan menciptakan mahasiswa yang memiliki kemampuan tenaga ahli yang dipersiapkan untuk siap turun ke lapangan pekerjaan. Berbeda dengan sistem kampus lain seperti kampus akademik (humaniora) yang mengutamakan penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan lainnya.

Pola Kaderisasi Milenial inilah yang mencoba ditulis sebagai penambah referensi dalam pola kaderisasi PMII hari ini di kampus vokasi  karena tantangan dalam sulitnya merekrut anggota baru dan mempertahankannya. Faktanya bisa dilihat dari latar belakang akademik kader-kader PMII. Outpunya pun demikian, alumni PMII yang mendapat amanah di dalam kekuasaan  saat ini tidak dapat menempati posisi yang sangat strategis.

Berdasarkan hal itu maka proses kaderisasi di kampus vokasi ada tantangan tersendiri yang harus dipikirkan solusinya. Dan beberapa tantangannya adalah: 

  • Pada dasarnya kampus vokasi berbeda dengan kampus akademik yang mengutamakan penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan lainnya. Jadi dituntut untuk menambah pengetahuan tentang disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan ilmu humaniora lainnya. (bukan passion)
  • Padatnya jadwal mata kuliah karena dituntut untuk mampu memiliki kemampuan tenaga ahli dalam waktu yang singkat.
  • Tenaga yang terkuras banyak karena banyaknya mata kuliah praktik membuat rasa malas mengikuti kegiatan yang sudah diagendakan ditambah pola kaderisasi yang tidak cocok dengan karakteristik mereka menambah rasa kemalasan untuk mengikuti agenda-agenda yang ada

Dari tantangan di atas penulis mungkin mempunyai saran dalam hal ini untuk bisa dijadikan masukkan untuk megatasi masalah di atas, sebagai berikut:

  • Dari anggota PMII itu sendiri sebelum mengajak orang lain untuk bergabung dan berproses di PMII para anggota wajib terbiasa melestarikan adab dan budaya yang dianut dalam tubuh PMII itu sendiri dan membiasakan orang-orang yang akan bergabung di PMII hingga mereka terbiasa. Karena muncul banyak kritikan saat ini seperti anggota PMII meninggalkan hal-hal yang mereka perkenalkan.
  • Membuat program pengenalan PMII secara menyeluruh dan  detail seperti PMII adalah organisasi kaderisasi yang menjunjung nilai-nilai beradab, berbudaya, dan pengembangan diri dari masing-masing anggota dalam mengaktualisasikan potensi dzikir, fikir, amal soleh.
  • Membuat pendekatan secara emosional dengan anggota atau calon anggota dengan membuat pertemuan secara intens di kehidupan sehari-hari dengan tetap memperkenalkan sekaligus membiasakan adab dan budaya dalam ber-PMII.
  • Membuat program diskusi dengan improvisasi misalnya sesekali memindahkan lokasi diskusi dari ruang kelas ke alam terbuka. Atau disuksi ringan ke tempat santai seperti kedai kopi atau kafe agar meminimalisir rasa bosan saat agenda diskusi. Seperti membuat “Diskusi Alam” dan sejenisnya.
  • Memperkenalkan PMII ke anggota keluarga  tiap-tiap anggota dan perlihatkan adab dan budaya dalam ber-PMII agar mereka percaya terhadap pergaulan anak mereka seperti membuat agenda rutin dzikir kerumah-rumah tiap minggu dan setelah itu diisi dengan diskusi-diskusi ringan
  • PMII sebagai tempat praktikum atau tempat percobaan apa yang telah diperoleh dari kurikulum kampus vokasi dengan mengimplementasikannya kedalam pola kaderisasi PMII, seperti di jurusan sipil bisa dibuat pelatihan autocad sebagai hal yang wajib dipahami di dalam teknik sipil, di jurusan teknik informatika bisa dibuat pelatihan pembuatan web atau blog di media social, jurusan manajemen bisa membuat pelatihan manajemen bisnis untuk kepentingan PMII itu sendiri, dan sebagainya.

Simpul dan Saran

Pola Kaderisasi Milenial ini dibuat untuk menjadi tambahan referensi untuk keresahan hari ini dari sahabat-sahabat dan penulis sendiri tentang kurangnya ketertarikan generasi saat ini dalam berorganisasi khususnya PMII. Ditambah lagi dengan tantangan kaderisasi di kampus pendidikan vokasi yang tidak memberikan waktu yang banyak untuk mahasiswanya berorganisasi dengan padatnya mata kuliah.

Diharapkan tulisan ini dapat menjadi tambahan referensi untuk PMII sendiri dalam melihat tantangan kaderisasi hari ini dan beberapa tahun kemudian dengan melihat beberapa tantangan yang telah terpapar pada bab sebelumnya sekaligus mempertimbangkan beberapa saran yang telah diberikan untuk ditindak lanjuti.

Daftar Pustaka

https://pmiicabangtegal.blogspot.com/2016/04/makalah-pkd-pendidikan-kader-dasar.html

https://www.infopena.com/blog/generasi-muda-nu-dan-tantangan-mengelola-generasi-milenial/


Reactions

Posting Komentar

0 Komentar