Oleh: Bidang Agitasi & Propaganda
Dunia tanpa syarat kemanusiaan adalah palsu,
sedangkan dunia tanpa agama adalah simbol kekacauan. Lalu, pertanyaan apa yang
semestinya diekspresikan tentang membunuh manusia itu sendiri?
Kerapuhan.
600 tahun sebelum Agama Islam lahir,
Yesus dari Nazareth adalah sosok penting dalam ajaran Kekristenan yang
mengkhutbahkan kepada seluruh murid dan pengikutnya untuk mencintai tetangga,
mengasihi orang yang lemah dan miskin, mengampuni mereka yang bersalah dan
perdamaian abadi. Bukankah mencintai tetangga adalah mencintai diri kita
sendiri? Tetapi, adalah menjadi bias keimanan apabila beranggapan Yesus hadir
sebagai pemberontak militer atau bahkan percaturan politik silam. Lebih dari
itu, Yesus memerintahkan adab toleransi yang berada di luar nalar manusia pada
umumnya. Apabila ada musuh – musuh yang menyerang, Yesus memerintah untuk tidak
boleh membalas. Adalah suatu keniscayaan untuk memaafkan, bukan hanya tujuh
kali, tapi tujuh puluh tujuh kali pemberian maaf. Berbicara tentang kebenaran
adalah berbicara persoalan menggugah akal masyarakat dan konsekuensi setelah
itu. Socrates dan Yesus adalah sedikit contoh bagaimana kebenaran harus
dibungkam dengan cara apapun untuk mencegah lahirnya suatu kebenaran yang baru.
Lalu, pelajaran apa yang seharusnya begitu penting untuk dikawal di Ibu Pertiwi
yang rapuh Ideologis ini?
Toleransi.
Terorisme menghadirkan pencitraan besar sebagaimana kekakuan dalam kelompok kelompok separasi Agama, golongan atau sektarianisme menyikapi persoalan dominasi kekuatan dengan menidakan pengaruh orang-orang yang berada di luar lingkaran sekte mereka sendiri. Sebetulnya, bentuk kegagapan Pluralisme berangkat dari ketidakpedulian pemerintah terhadap majemuknya suatu masyarakat atau bahkan kurangnya kesadaran masyarakat persoalan hidup rukun antara satu dengan yang lainnya. Pluralisme adalah bukan tentang sikap menerima Masjid, Gereja atau Sinagoge yang berdiri bersebelahan tembok kemudian menidakan permasalahan antara teritorialnya masing – masing. Pluralisme bukan soal menerima secara utuh hidup rukun sesama manusia yang berbeda biografi Agama. Pluralisme bukan persoalan berada di satu meja makan kemudian berdoa makan menurut kepercayaannya masing – masing. Adalah substansial untuk disadari bahwa Pluralisme, adalah persoalan kemanusiaan yang jauh lebih tinggi daripada itu. Sejatinya, sikap Pluralistik adalah hidup bertoleransi sebagaimana hidup untuk menghormati, menghargai, menyatakan secara terang-terangan sikap kepedulian yang tinggi dan turut membantu kepada kelompok-kelompok yang dibungkam atau bahkan keberadaannya diberantas. Lalu, apabila melirik peroalan Sulawesi Tengah, Tanah Sigi, apakah agama-agama Samawi mengajarkan kepada umat-umatnya untuk membunuh atau memberantas kelompok-kelompok yang bukan termasuk kelompoknya? Jika Agama Islam, Kristen dan Yahudi lahir dalam rumpun Bangsa yang sama, hal-hal apalagi yang memantik sebuah kekacauan?
Kelakuan.
Usut punya usut, apabila Negara menjalin koalisi dengan Kekuatan Global untuk memperkaya diri, lalu bagaimana dengan resistensi afiliasi Terorisme mengambil sikap dengan menidakan sebuah sistem kemudian menawarkan sistem ‘baru’ yang benar-benar rapuh?
Apabila perlawanan Pemerintah terhadap
Terorisme hanya sebatas perlawanan untuk menjaga kesatuan, adalah benar
perlawanan Terorisme kepada Pemerintah adalah perlawanan untuk menghadirkan
‘sesuatu’ yang baru. Lalu, dengan seluruh dominasi kekuatan dan kekuasaan yang
dimiliki Negara, karakteristik apa yang begitu genting tetapi menjadi sebuah
kelalaian? Lalu, hal apa yang menjadikan Indonesia mudah disusupi kekuatan –
kekuatan ideologis asing anti-kesatuan? Patut untuk dilayangkan apa yang masih
menjadi kelemahan disisi lain Tanah Air, yang secara ringkas masih terlihat
dominasi-dominasi HTI, FPI, ISIS dan kelompok-kelompok sejenisnya kerap kali
berafiliasi dengan MIT lewat gorong – gorong bawah tanah, bukankah demikian?

0 Komentar