Mahasiswa Dalam Bayang-bayang Media Digital


Oleh : Daffa Syamputra






Seperti yang sudah kita ketahui Mahasiswa secara umum merupakan pemuda pemudi intelektual yang menggunakan paradigma kritis untuk membedah permasalahan sekitarnya, khususnya pada lapisan masyarakat dan juga Negara. Maka dari pengembangan paradigma seperti itu diharapkan munculnya sebuah gagasan berbentuk perubahan nyata yang memang sudah menjadi tanggung jawab Mahasiswa dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Berbicara soal tanggung jawab, secara signifikan merupakan tugas berat yang harus diemban oleh Mahasiswa. Mengingat perubahan yang akan tercipta tidaklah mudah untuk dapat diterima pada kalangan masyarakat, bahkan menjadi tantangan tersendiri bagaimana cara Mahasiswa menerapkan tugas dan fungsinya tersebut. Secara historis Mahasiswalah yang memegang peran sebagai penampung aspirasi rakyat, serta menjadi garda terdepan untuk rakyat dari awal pra kemerdekaan hingga sekarang.

Berkaca dari perkembangan zaman, seiring berjalannya waktu langkah demi langkah Mahasiswa mulai menyongsong pergerakan dengan memfilter setiap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjalankan perangkat pemerintahan, juga hal-hal lain yang mempengaruhi masyarakat yang tak lain dan tak bukan adalah Media Digital.

Secara definisi, Media Digital adalah format konten yang dapat diakses oleh perangkat-perangkat digital. Media Digital bisa berupa website, media sosial, gambar digital, vidio digital, audio digital dan lain-lain. Seiring dengan berjalannya zaman, Media Digital berkembang dengan begitu pesat dan sangat mempengaruhi masyarakat.

Dan pertanyaannya ialah bagaimana Mahasiswa menyikapi pengaruh Media Digital yang kian hari makin akrab dengan masyarakat?

Tren Era Digital

Teknologi digital masa kini yang semakin canggih menyebabkan terjadinya perubahan besar dunia. Manusia telah dimudahkan dalam melalukan akses terhadap informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas dari teknologi digital dengan bebas. Dunia digital berbasis internet membuat seluruh aktivitas para penghuninya menjadi tanpa batasan ruang dan waktu.

Media online (internet) di era sekarang ini menggeserkan media massa konvensional, yang dulunya kita bisa mendapatkan informasi lewat misalnya ceramah, pengajian, diskusi, dan seminar di kampus. Sedangkan sekarang, banyak kajian-kajian dan informasi yang tertampang di media sosial misalnya live Instagram, live facebook dan lain-lain.

Aneka aplikasi Media Digital mulai bermunculan mulai dari :
Chatting : yahoo,skype,WhatsApp,Line
Video Sharing : Youtube,Vine
Photo Sharing : Instagram , Photo Bucket
Penerbitan : Blogger, Wikipedia, Wordpress
Jejaring Sosial : Facebook, Twitter, Google+, Path
Game : Pubg, Mobile Legend, Free Fire dll

Tak bisa dipungkiri alat ini telah membantu perkembangan peradaban manusia. Bisa dianalogikan alat ini adalah sebuah koin yang memiliki sisi yang sering kita perhatikan, akan tetapi kita bisa dikatakan naif jika kita tak menghiraukan sisi lain dari koin tersebut.

Problematika Media Digital

Media digital adalah narkoba jenis baru yang sering dikonsumsi oleh banyak kalangan masyarakat, yang kemudian mengakibatkan kecanduan dan bersifat manipulatif. Kita sering kali terjebak di depan layar dan lupa dengan lingkungan sekitar. Seakan yang kita liat di dalam layar adalah koneksi yang nyata dan yang ada di dalam layar adalah pengganti aroma tubuh manusia. Alat ini telah mengikis struktur sosial dan cara kerja masyarakat, dan secara tidak langsung memangkas kemampuan manusia dalam bersosial.

Apa yang salah dari Media Digital saat ini? Keluhan, skandal, pencurian data, kecanduan, post truth trend, fake news, hoax, hate speech, popularitas palsu dan rapuh, dan bahkan pemilu yang diretas. Namun adakah sesuatu dibalik semua masalah ini? Yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi sekaligus? Tak lain dan tak bukan adalah eksploitasi manusia oleh Industri Teknologi Media Digital.

Sering kali kita mendapati iklan muncul di media sosial kita. Lantas pernahkah kita bertanya-tanya dari mana dan bagaimana bisa iklan ini muncul? Yaitu dengan cara pengiklan membayar Industri Teknologi Media Digital untuk menampilkan iklan pada platformnya, yang kemudian menyita perhatian pengguna. Pengiklan adalah pelanggan dan perhatian pengguna adalah produk yang dijual ke pengiklan oleh Industri Teknologi Media Digital. Karena sumber uang mereka adalah perhatian pengguna, maka dengan cara yang tidak transparan mereka membuat pengguna kecanduan akan platform yang mereka buat, yang kemudian diselipkan iklan untuk keuntungan mereka. Pada akhirnya, pengguna bukanlah pengguna melainkan produk yang dijual.

Hal yang selalu diinginkan dan diimpikan semua bisnis adalah memiliki jaminan kepastian keberhasilan ketika iklannya dipasang dan itulah bisnis mereka, menjual kepastian. Kepastian bahwasanya pengguna akan mengorbankan waktu dan perhatiannya untuk iklan yang dipasang pada platform (media sosial). Ini adalah lokapasar jenis baru dan belum pernah ada sebelumnya. Lokapasar yang memperdagangkan perhatian dan emosi manusia yang tentu saja membutuhkan banyak data. Pengguna diawasi, dilacak, diukur setiap tindakan yang pengguna lakukan, dipantau dan direkam dengan sangat hati-hati. Dan dari situlah mereka mendapatkan data pengguna.

Apakah Yang Dimaksud dengan Fitur?

Kita tak pernah bisa lepas dari ponsel kita, dan bahkan mungkin bingung apa yang akan kita lakukan jika tak menggunakan ponsel. Hanya ada dua pertanyaan, apakah kita memeriksa ponsel sebelum kencing di pagi hari? Atau memeriksa ponsel sambil kencing di saat pagi?

Ada beberapa tujuan dari Industri Teknologi Media Digital, yaitu:
1. Keterlibatan untuk meningkatkan penggunaan pengguna untuk terus gulirkan layar
2. Pertumbuhan untuk mengundang lebih banyak orang/pengguna
3. Bahwa seiring semua itu terjadi mereka mendapatkan uang sebanyak mungkin dari iklan

Ketika Industri Teknologi Media Digital menemuka fitur notifikasi, mereka memaksimalkannya. Karena hal tersebut dianggap bagus untuk menumbuhkan aktivitas pengguna. Ketika muncul notifikasi, secara tidak langsung pengguna berpikir mungkin ada sesuatu untuknya dibalik layar notifikasi tersebut. Contoh lain yaitu fitur menandai seseorang pada foto yang di upload. Jika pengguna mendapati notifikasi yang menyebutkan bahwa temannya baru saja menandainya, tentu saja si pengguna akan membuka notifikasi tersebut. Itu bukan hal yang bisa pengguna abaikan begitu saja. Seperti “mari buat semua orang saling menandai foto satu dengan yang lain sepanjang hari”. Dan itu adalah kepribadian mendalam manusia yang dimanfaatkan oleh Industri Teknologi Media Digital, yakni keinginan untuk diakui. Karena dengan menandai, pengguna akan merasa diakui.

Saat mereka membuat tombol suka, like atau hati, motivasi mereka adalah ingin menyebarkan aura positif dan cinta di dunia. Faktanya kini remaja merasa ada yang kurang ketika tak dapatkan banyak respon suka. Padahal berapa banyak jumlah like bukan menjadi representasi berapa banyak orang yang menyukai kita. Generasi Z menjadi generasi pertama yang terjun ke media sosial. Generasi ini adalah generasi yang lebih cemas, rapuh dan tertekan. Khususnya remaja perempuan yang berumur 10-19 tahun. Semua pola itu mengarah ke media sosial, dan mereka tumbuh dewasa dengan manipulasi media sosial yang secara tidak langsung membuat mereka menderita insecure yang tak sudah-sudah, overthinking berlapis-lapis, serta memeluk kecemasan berkawin-kawin. Teknologi media digital telah melatih dan mengondisikan sebuah generasi baru yang ketika merasa tak nyaman, kesepian, merasa tak pasti, atau takut, seakan-akan mempunyai penenang digitalnya sendiri. Yang kemudian menghentikan kemampuan diri untuk menghadapinya. Industri Teknologi Media Digital mengontrol dan mengendalikan konten serta informasi yang kita lihat. Mereka menyesuaikan pencarian serta rekomendasi konten untuk kita berdasarkan keinginan, minat, tempat, waktu dan emosi yang sedang kita alami. Kita tak pernah melihat koten yang sama pada platform sosial media. Kita melihat dunia yang berbeda karena berdasarkan analisi komputer soal konten seperti apa yang ideal untuk kita. Studi MIT (Massachusetts Institute of Technology) menyebutkan bahwa berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat dari berita sebenarnya. Berita palsu memberi mereka lebih banyak uang dari pada kebenaran. Kebenaran itu membosankan. Kita dibombardir dengan rumor dan hoax yang menyebabkan kita tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Yang membuat orang-orang berpikir “aku tak boleh percaya siapapun”, “aku benci pihak lain”. Ekosistem informasi kita sedang kacau dan media sosial memperkeruh serta mempercepat rumor dan hoax. Dan post truth adalah bahan bakar dari hoax. Post truth adalah kondisi dimana fakta objektif tidak lagi memberikan pengaruh besar dalam membentuk opini publik, justru malah keyakinan/kepercayaan pribadi dan ketertkaitan emosional yang dapat dibenarkan. Yang membuat orang-orang merasa “aku percaya maka aku benar”.

Media Digital adalah alat persuasif terhebat dan tercanggih yang pernah dibuat dalam sejarah umat manusia. Jika ingin mengendalikan populasi suatu negara, tak pernah ada alat seefektif Media Digital. Seperti perang dengan kendali jarak jauh, satu negara bisa memanipulasi negara lain tanpa menyentuh perbatasan fisik. Bayangkan jika alat itu berada di tangan seorang diktator atau pemimpin otoriter. Dengan cara menabur kekacauan dan perpecahan pada tatanan masyarakat yang tak mau saling mendengar dan saling percaya, membuat kebohongan pada populasi tertentu dan membuat perang budaya, suku, ras, dan agama. Pada akhirnya kita hanya sedang menuju Utopia sekaligus Distopia.

Simpul dan Pertimbangan

Kita beralih dari memiliki lingkungan teknologi berbasis alat, menuju ke lingkungan teknologi berbasis kecanduan dan manipulasi. Kutukan nomad digital, sebut saja begitu. Adalah lingkaran setan dimana manusia (dipaksa) berlimpah informasi, beradu clickbait setiap hari, merayakan hal yang trending dan viral, padahal sedang menambang obesitas informasi dan polusi kesadaran. Media Digital bukanlah alat yang menunggu untuk digunakan, ia punya tujuan dan cara sendiri untuk memperolehnya. Dengan cara menggunakan emosimu melawan dirimu.

Hukum jauh tertinggal dalam hal ini. Hukum saat ini bukan untuk melindungi pengguna, melainkan perlindungan untuk hak dan privilege untuk semua perusahaan raksasa yang sangat kaya itu. Pemikiran jangka pendek berdasarkan perilaku yang menuhankan keuntungan, karena perhatian pengguna bisa ditambang dan dijadikan uang.

Pada akhirnya tak semua orang menganggap ini adalah hal yang bermasalah dan tanpa sadar kita sedang menuju Distopia. Maka dari itu mahasiswa perlu menyadari hal tersebut sebagai seorang yang terdidik. Hari ini kita Mahasiswa tidak bisa terlepas dari yang namanya era digital dan media sosial. Zaman akan terus berkembang, dan Mahasiswa tidak bisa tertinggal dalam hal ini terutama media sosial yang sudah merupakan konsumsi kita sehari-hari. Khususnya sebagai pemuda pemudi intelektual yang tak pernah lepas dari ruang sepi dan sunyi seperti membaca, menulis dan berdiskusi. Maka dari itu ada beberapa cara bagaimana Mahasiswa mengcounter penggunaaan media digital yang sedang menuju distopia, yaitu:

a. Tidak berkontribusi ikut dalam huru-hara di media sosial. Lebih baik kreatif dalam menyebarkan hal positif. Hal positif itu berupa menyebarkan konten yang inspiratif, edukatif, informatif, menghibur, dan membangun karakter.

b. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membatasi penggunaan media digital yang berlebihan, mematikan notifikasi, menghapus aplikasi yang tak penting, mengikuti/memfollow orang yang tak disukai untuk melihat sudut pandang yang berbeda. Memberitahukan kepada orang tua bahwa jangan dulu memberikan ponsel kepada anak jika masih berada dibawah umur 16 tahun, atau minimal anak sudah mengerti dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

c. Menyarankan kepada pemerintah untuk memperkuat payung hukum untuk mengatur segala bentuk aktivitas Media Digital seperti Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tahun 2008 untuk terus disempurnakan. Agar data pribadi masyarakat dapat diberikan perlindungan di dalam dunia maya, kenakan pajak untuk membatasi aset dan penyimpanan data pribadi. Dengan cara itu pihak seperti Google atau Facebook yang memiliki data pribadi penggunanya tidak bisa menggunakan big data tersebut sembarangan.

Akhir kata, keluarlah dari sistem mesin manipulasi itu untuk melakukan percakapan sosial yang nyata. Dunia ini indah, keluar dan nikmatilah.

Catatan tambahan : Tulisan ini pertama kali dipublish sebagai salah satu syarat mengikuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Komisariat Universitas Sam Ratulangi Cabang Manado pada tanggal 6-8 November 2020

DAFTAR PUSTAKA

- Film The Social Dilemma
- Felia Rahayu Dina, “KTI—Kaderisasi Di Era Digital”, PMII Politeknik Manado, 2019
- https://www.kominfo.go.id/content/detail/10841/mahasiswa-garda-terdepan-hadang-konten-negatif-di-media-sosial/0/sorotan_media



Reactions

Posting Komentar

0 Komentar