Menyaksikan Ritchie Style dalam ‘The Gentlemen’

 Penulis: Pria Ubaydillah
                                             source: pinterest

Dibutuhkan 2 dekade untuk menunggu Ritchie kembali menggunakan Style-nya, tapi bukan berarti sepanjang 20 tahun itu Ritchie puasa karya karena selain karya-karyanya yang paling populer dan meraup untung yang telah disebutkan di tulisan sebelumnya, Ritchie pernah merilis karya berjudul Swept Away (2002) yang dibintangi oleh mantan istrinya, Madonna. Selain itu Ritchie juga merilis karya yang berjudul The Man From U.N.C.L.E (2015) dan King Arthur: Legend of the Sword (2017) yang sungguh keluar jauh dari zona nyamannya.

Dari rentetan waktu penungguannya untuk kembali menggunakan Style-nya, sebenarnya ada dua karya yang sekilas Ritchie seperti ingin balik ke cara mainnya tapi karyanya terkesan nanggung, Revolver (2005) dan RocknRolla (2008) adalah karya yang dimaksud.

Di ‘Revolver’ untuk kesekian kalinya Jason Statham yang memerankan Mr. Jake Green kembali bekerja sama dengan Ritchie, namun untuk pertama kalinya tampil dengan pembawaan yang baru—lebih serius dan sadis. Dalam karya ini memang Ritchie kembali dengan gayanya yang menggunakan sosok narator untuk membantu membangun cerita, namun ditambah dengan beberapa narasi dari tokoh-tokoh legendaris seperti Nicollo Machiavelli dan Julio Cesar yang digunakan untuk menunjukkan keseriusan cerita. Namun yang hilang darinya adalah formula pembagian porsi peran karena di film ini hanya beberapa tokoh yang ditonjolkan.

Namun apa yang hilang dari ‘Revolver’ adalah apa yang ‘RocknRolla’ suguhkan, namun sekali lagi Style-nya dalam membangun alur dan narasi yang ditampilkan justru berkurang daripada apa yang ada di ‘Revolver’.

Meskipun demikian dengan rilisnya The Gentlemen pada awal tahun 2020 ini, kerinduan akan Ritchie yang betul-betul menggunakan gaya khasnya nampaknya terbayar sudah untuk para penonton. Jika di tulisan sebelumnya ‘Menyaksikan Kembali Ritchie Style 2 Dekade Lalu’ telah dibahas tentang gaya Ritchie dalam penyutradaraannya dua dekade lalu, maka tulisan ini hadir untuk membahas tentang Style­-nya dua dekade kemudian.

Oleh karenanya mari kita sama-sama menyaksikan Ritchie Style dalam karya terbarunya yang secara bersamaan terdapat alasan kenapa Ritchie pantas untuk terus dinikmati dan dibicarakan.



Pamer, Pemeran, dan Pamer Pemeran

Di tulisan sebelumnya sudah sempat dikatakan bahwa Ritchie adalah sutradara yang betul-betul memperhatikan gaya berpakaian para pemeran, dan hal itu bisa kita saksikan terdapat pada hampir semua aktor yang tampil dengan pakaian necis juga ditambah dengan salah satu fakta menarik meskipun terdengar sepele, bahwa salah seorang aktor (Charlie Hunnam) memakai pakaian bukan dari stok lemari pakaiannya yang disediakan kru film melainkan hasil berbelanjanya di toko pakaian bersama dengan Ritchie. Ini membuktikan kalau Hunnam sendiri yang memilih pakaian yang cocok dengannya dan tema film dan ini membuktikan kalau Ritchie memang seorang sutradara yang suka pamer perihal gaya.

Hal lain yang memperlihatkan sisi pamer Ritchie adalah bertaburnya pemeran ternama di film ini. Matthew McConaughey pemenang pemeran utama terbaik Oscar 2014 diajak oleh Ritchie untuk berperan sebagai seorang bandar narkoba bernama Mickey Pearson, di samping Mickey ada Ray sebagai tangan kanannya yang diperankan oleh Charlie Hunnam (Pacific Rim,The Lost City of Z), sampingnya lagi ada si nyonya Rosaline Pearson yang diperankan oleh Michelle Dockery (Non-Stop). Berpindah ke kubu selanjutnya ada Dry Eye yang diperankan oleh Henry Golding si pendatang baru yang terkenal karena perannya di Crazy Rich Asians dan Jeremy Strong (The Big Short) yang berperan sebagai Matthew. Sebagai tambahan ada Colin Farrell (The Lobster,Total Recall) sebagai Coach dan juga seorang aktor kawakan Hugh Grant yang berperan menjadi Fletcher. Dengan bertaburnya para pemeran ternama ini sebenarnya menjadi tantangan untuk Ritchie, apakah Ritchie mampu untuk membagi porsi satu sama lain? Dan ya dia menjawabnya dengan tetap memberikan setiap karakter fungsinya tersendiri dan juga memiliki pengaruh terhadap jalannya cerita.

Pertunjukan pamer tidak hanya berhenti di situ karena penggambaran para karakter juga di isi oleh sisi ke-PAMER-annya masing-masing, sebagai contoh Mickey Pearson dengan narasinya soal kekuasaan, Ray dengan aksi dan loyalnya, baku hantam ala Coach—mengigatkan akan sosok Mickey O’neil di Snatch, Dry Eye dan Matthew dengan kepercayaan dirinya akan kekuasaan, dan tidak lupa ada Fletcher si jurnalis dengan gayanya yang suka mendongeng.

Lalu dengan banyaknya karakter yang disebutkan sebelumnya—belum ditambah dengan yang tidak sebutkan—terletak di mana dan bagaimanakah Ritchie Style bekerja?

Film dalam Film—Sebuah Gambaran Kepelikan

Bisa dikatakan bahwa film ‘The Gentlemen’ adalah sebuah film tentang film. Maksudnya bahwa film ini berisikan tentang sebuah alur cerita yang dinarasikan oleh seorang jurnalis bernama Fletcher yang ingin membuat film. Ya film Ritchie memang identik dengan sosok narator yang membantu jalannya cerita.

Dan ‘sebuah ketidaksengajaan yang sengaja’ adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan film bertema kriminal komedi ini. Bagaimana tidak? Karena hampir semua konflik yang tercipta oleh alur karena ketidaksengajaan para tokoh yang tergabung.

Sebagai sebuah pengantar singkat, Mickey Pearson sosok yang hendak pensiun dari bisnis ganja-nya ingin menjual ladang penghasilannya tersebut kepada Matthew. Mickey Pearson yang menjadi sebuah gambaran bagaimana kekuasaan itu berjalan adalah sosok yang bekerja sama dengan golongan aristokrat yang hanya bisa hidup dari harta warisan untuk membantu menyembunyikan ladang ganjanya. Sedangkan sosok Matthew yang memang digambarkan licik dari awal cerita, tidak puas dengan harga yang diberikan oleh Mickey dan memiliki rencana agar keinginannya tecapai. Dan segala ketidaksengajaan yang sengaja pun terjadi satu-persatu, dari Dry Eye yang memiliki nafsu kekuasaan—meskipun masih prematur—yang ingin juga mengambil alih bisnis Mickey, dan Coach yang terkena getah akibat ulah anak-anak didiknya yang membobol ladang ganja Mickey. Ada juga Rosaline yang terkena dampak karena perebutan bisnis suaminya dan tentu saja ada Ray yang menjadi tangan kanan Mickey untuk membereskan segala masalah yang ada. Tidak lupa juga sosok yang penting dalam film ini yaitu Fletcher yang hampir selalu ada ketika segala kejadian pelik terjadi.

Ketidaksengajaan yang sengaja sebenarnya adalah gambaran bagaimana sebuah keterkaitan satu dengan yang lainnya terjadi karena sebuah kesengajaan hingga akhirnya terlihat seperti tidak sengaja terlibat.

Selain kompleksnya alur yang dibagun dan tercipta, ada salah satu kekuatan Ritchie yang tidak baik jika hanya sekedar dibaca atau didengar lalu dilupakan. Kekuatan itu bernama dialog.

Dialog ala Ritchie Style dan Apa Yang Bisa Dipelajari

Michael Pearson: If you wish to be The King of the jungle, it's not enough to act like a king. You must be The King. And there can be no doubt. Because doubt causes chaos and one's own demise.
Mickey Pearson: There's only one rule in the jungle: when the lion's hungry, he eats!

Kedua dialog di atas adalah tag-line utama dalam film ini yang sebenarnya menggambarkan soal tema di film yang banyak berbicara soal perebutan kekuasaan. Bicara soal perebutan kekuasaan maka akan sangat mustahil jika tidak terjadi adegan adu jotos dan tidak memunculkan sosok pemenang kekuasaan. Dan jika berbicara soal hierarki kekuasaan pasti ada yang namanya singa dan para domba, juga tidak ketinggalan ada yang bernama domba yang mengira dirinya singa.

Ada juga dialog yang menarik untuk disorot yaitu soal apa yang disebut dengan kebenaran alternatif, dapat dikatakan bahwa kebenaran alternatif sebenarnya adalah jalan untuk menunjukkan sisi lain dari tidak berbohong tapi tidak juga jujur. Berikut adalah beberapa contohnya.

Rosalind Pearson: So you killed someone?
Ray: No, it was the gravity that killed him.

Dialog ini muncul ketika Ray dan sekawanannya mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mickey, tapi misi yang seharusnya berjalan lancar dikotori oleh sebuah insiden yang menewaskan seseorang akibat terjatuh dari gedung bertingkat. Dapat dikatakan bahwa Ray dan gerombolannya yang memicu hingga terjadinya kejadian tersebut, tapi jawaban mengelak dari Ray juga dapat dibenarkan—secara alternatif—karena adanya hukum dari gaya gravitasi yang turut membantu seseorang tewas.

Sebagai seorang penonton—merangkap penulis, dengan lirisnya The Gentlemen cukup mengobati penungguan akan karya Ritchie yang betul-betul menggunakan ciri khasnya secara keseluruhan meskipun ini bisa dikatakan juga sebagai pengulangan dari sebuah pengulangan formula ala Ritchie yang dimulainya pada tahun 1998 dan 2000.

Pada akhirnya Ritchie Style adalah apa yang bisa kita katakan memetik pesan tersirat ataupun tersurat di balik berdarah-darahnya sebuah kejadian dan hikmah yang tersembunyi dalam sebuah kekonyolan.



Reactions

Posting Komentar

0 Komentar