Membaca Saleh Ritual, Saleh Sosial karya KH. A. Mustofa Bisri

Ditulis Oleh Pria Ubaydillah


Buku Saleh Ritual, Saleh Sosial karya KH Mustofa Bisri atau yang sering disapa Gus Mus berisikan esai-esai pendek beliau yang melalui penerbit DIVAPress berhasil disusun menjadi sebuah buku dan  dikelompokkan secara sistematis menjadi 5 bagian yaitu yang pertama, ‘Bercakap dengan diri sendiri’ yang berisikan esai yang mengajak untuk merefleksikan diri dihadapan diri sendiri yang di bagian kedua ‘bermunajat kepada Allah’ mengajak untuk merefleksikan diri terhadap perintah Allah. Bagian ketiga ‘bergaul dengan sesama’ dan bagian keempat ‘peran tokoh masyarakat’ berbicara tentang kehidupan antara sesama, yang bedanya bagian ketiga mengangkat cerita tentang individu ke individu (terkecuali cerita tentang sahabat Umar) dan bagian keempat tentang individu sebagai tokoh masyarakat kepada individu yang sebagai rakyat biasa. Penutupnya dibagian kelima berlatarkan situasi tahun 90’an ketika maraknya demokrasi bagi para parpol, ramainya proyek pembangunan hingga ramainya pembicaraan soal hal terebut karena banyak rakyat yang turut merasakan dampaknya.


Membaca Saleh Ritual, Saleh Sosial akan terasa lebih nikmat untuk yang sudah terbiasa dengan literatur serupa, namun untuk yang belum terbiasa juga tetap bisa menikmatinya meskipun tidak akan seperti yang sudah terbiasa bersentuhan dengan literatur yang sejenisnya. Untuk tulisan seorang guru seperti Gus Mus tidak terdapat penanaman doktrin-doktrin yang memicu dogma melainkan diajak untuk kembali berfikir bersama.  Berikut adalah beberapa pembahasan dan pandangan pribadi pembaca yang dianggap menarik dan juga sekiranya bisa memicu juga untuk membaca buku ini dan merefleksikan isi di dalamnya. 

Bercakap Dengan Diri

Kita memiliki peluang untuk membuat jarak dengan diri kita sendiri, lalu mengadakan dialog yang sangat pribadi. Alasannya karena sebagai insan yang penuh akan kekurangan kita mampu untuk melakukan penilaian tanpa ada bentuk intervensi dari keegoisan diri sendiri—anggapan bahwa kita adalah insan yang berkesempurnaan—juga sebagai bentuk evaluasi yang lebih mendetail dan teliti tentang kualitas diri sendiri. Langkah-langkah ini diperlukan sebagai pengujian sejauh manakah kita mengenal diri sendiri? Bukankah dengan cara mengenali diri sendiri kita akan mengenali Sang Pencipta? Man ‘arafa nafsahu ‘arafa Rabbahu. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. 


Imam Al-Ghazali memberi perumpamaan, baginya manusia adalah kerajaan dan hati nurani sebagai rajanya, akal sebagai perdana menteri sedangkan indra dan anggota tubuh lain sebagai aparat pembantu untuk pemimpin kerajaan. Sang raja sepatutnya bermusyawarah dengan perdana menteri untuk pengambilan keputusan sedangkan perdana menteri harus paham dengan tupoksinya yang tidak boleh menghianati raja dan kerajaanya. Para pembantu pun demikian, harus tetap patuh atas perintah dari atasannya bukan malah sebaliknya para pembantu yang menguasai proses pengambilan keputusan sedangkan para atasannya sebenarnya hanya menjadi figuran atau boneka. Ditambah dengan landasan tindakan bertolak kepada undang-undang sebagai penyelaras kehidupan. Perumpamaan Imam Al-Ghazali bisa dijadikan contoh untuk mengenal diri sendiri, apakah hati nurani dan akal sudah bertindak sebagai pengambil keputusan? Ataukah justru anggota tubuh yang mengambil alih tugas itu? Dan juga apakah pedoman kehidupan sudah dijalankan dengan baik ataukah hanya menjadi tulisan-tulisan bisu?


Ada pula percakapan dengan diri sendiri yang lainnya yaitu tentang pakaian, bagaimana awal mula bentuk dan fungsi pakaian pendahulu kita dan bagaimana sebuah pakaian tiap individu mampu mempengaruhi diri dan lingkungan sekitarnya. Sejatinya Sang Pencipta memberi keterangan bahwa fungsi pakaian ialah menutup aurat dan untuk menghias diri tapi Dia juga berfirman Wa libasut-taqwa dzalika khair (Dan pakaian taqwalah yang paling baik) (QS. 7: 26).


Juga kesalahen ritual dan kesalehan sosial menarik untuk disorot karena dijelaskan bahwa terdapat dikotomi antara yang saleh ritual dengan praktik ibadahnya sebagai contoh sholat dan dzikir yang hanya sampai di gerak badan kosong makna dan gerak lisan yang sekedar terbiasa. Sebelahnya ada saleh sosial yang dengan praktik kegiatan ber-manusia memiliki landasan makna namun belum bersegera melaksanakan praktik ritual karena kekecewaan terhadap saudaranya yang hanya melakukan praktik kesalehan ritual. Gus Mus sendiri menekankan bahwa seharusnya tidak ada dikotomi seperti itu karena Islam hanya mengenal satu kesalehan yaitu kesalehan Muttaqi (hamba yang bertaqwa), kesalehan yang mengabungkan kesalehan ritual dan sosial.


Bermunajat Kepada Allah

Pertanyaan tentang apakah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang ingin membumikan agama langit itu dicintai Sang Pencipta atau tidak? Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang menginginkan umat untuk tegas dan siap mengejar ketertinggalannya disayang Sang Pencipta atau tidak? Atau justru mereka dibenci oleh Sang Pencipta? Bisa jadi pertanyaan itu menganggu mereka atau bisa juga dengan munculnya pertanyaan seperti itu yang memicu mereka untuk terus bergelut dengan aktivitasnya.


Kemungkinan individu seperti kita yang jauh dari kapasitas seperti mereka juga sering mendapati mempertanyakan itu kepada diri kita, meskipun untuk mencapai posisi mempertanyakan hal seperti itu butuh proses yang panjang juga. Bayangkan untuk sampai posisi sebagai penanya saja butuh proses panjang apalagi menjadi seorang penjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu—nampaknya memang hanya Sang Pencipta yang bisa untuk menjawabnya. Kendati pertanyaan seperti itu muncul dalam diri kita, akankah kita memposisikannya sebagai sebuah motivasi untuk terus memicu diri ke arah yang lebih baik lagi ataukah justru menganggap itu sebagai sebuah pertanyaan gangguan?

Bergaul Dengan Sesama

“Sebisa mungkin bahagiakanlah orang lain. Jika tidak, minimal jangan menyusahkan orang lain” adalah pesan dari seorang kiai asal Rembang yang dikenal dan mengenal segala elemen masyarakat karena kesehariannya diisi dengan kegiatan bercengkrama dengan sesama, mengunjungi tetangga dan kerabat hingga mengunjungi rumah sakit untuk menengok siapa saja yang sedang dirawat lalu kemudian memberitakannya kepada yang lain tentang siapa yang sedang dirawat di dalamnya. Hingga ketika beliau sakit sampai akhir nafasnya beliau pun mendapat perlakuan yang sama seperti yang beliau lakukan kepada sesama.


Selain itu juga cerita tentang Perahu sahabat Umar memberikan kesan akan keberlangsungan hidup sesama yang meskipun dalam sebuah kapal tiap penghuninya diberikan otoritas wilayahnya masing-masing namun ketika ada yang mencoba untuk menghancurkan wilayahnya tersebut, pencegahan dari sesama penghuni kapal tetap diperlukan, mulai dari menegur atau yang langsung menghentikan tindakannya tersebut. Yang pasti jika semua diam saja maka entah apa yang terjadi dengan kapal tersebut. Nampaknya untuk cerita tentang keberlangsungan hidup sesama ini boleh dispesifikasikan mulai dari kehidupan berbangsa, bernegara, berkeluarga, hingga berorganisasi pun bisa.


Yang menarik juga tentang pemaknaan kata “KITA” yang menurut Gramatika masuk ke dalam Pronomina Persona yang bersifat menyatukan Persona I dan Persona II. Hal inilah yang menyebabkan kata ini terasa sangat bersahabat atau menenangkan jika digunakan, bisa dilihat bagaimana kata ini diobral para politisi terhadap rakyat kecil, tidak perduli rakyat—atau si politisi pun bisa jadi—tidak mengerti dengan apa yang dibicarkan, kata ini terkesan menyatukan. Harapannya suatu saat nanti kata ini dipergunakan untuk memang menyatukan tanpa ada kepentingan dibaliknya.

Peran Tokoh Masyarakat

Tentang surah ar-Ra’d ayat 11 yang dijadikan dalil revolusioner oleh sosok Bung Karno pada forum PBB yang pada tahun 90’an digunakan sebagai dalil pembangunan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubah keadaan mereka sendiri”. Adalah contoh bahwa dalil tersebut bisa memicu reaksi semangat di dalam diri tapi jangan dilupakan juga bahwa reaksi ini juga bisa membawa semangat yang negatif, bisa dilihat bagaimana dalil ini dilanggengkan untuk hal yang merugikan.

Contoh peranan tokoh masyarakat yang lainnya ialah ketika tokoh-tokoh seperti Gus Dur, Cak Nun, Cak Nur dan kawan-kawannya melemparkan gagasan-gagasan yang terasa baru hingga memicu respon dari yang bertentangan dengannya. Bukankah munculnya gagasan-gagasan baru tersebut memberi tanya kepada umat yang awam? Lalu  bantahan yang muncul memberi tanya juga kepada umat yang awam bukan? Bukankah lebih baik dari mereka untuk memulai dialog bersama? Hingga hasil dari dialog itu yang juga akan memberi petunjuk kepada umat.

Dinamika Umat

Ketika parpol seperti PPP,PDI, dan Golkar berlomba untuk menunjukan kualitas partainya mulai dari segi seremonial kegiatan hingga kualitas kadernya. Gus Mus sendiri mengingatkan kepada parpol yang sedang ketagihan udara demokrasi ini untuk berhati-hati bahwa ketika suasana demokrasi dibuka untuk umum maka baik dari yang suka ataupun tidak tetap akan merasakannya dan sekali dibuka ia tidak boleh ditutup lagi.

Dinamika serupa dialami juga oleh para rakyat yang mulai menjadi korban dari realisasi proyek pembangunan, yang seharusnya menjadi target utama ketika terealiasasinya proyek pembangunan. Bukankah proyek pembangunan itu untuk rakyat? Lalu kenapa rakyat yang banyak menjadi korban dari kecelakaan pembangunan? Ketika rakyat yang mungkin dianggap bodoh karena tidak sepakat dengan pembangunan, bukankah lebih bodoh lagi jika meresponnya dengan cara mencelakakan?


Penutup

Konon katanya kita hidup di zaman yang serba sibuk dengan berbagai urusan. Misalnya untuk urusan mencari seperti mencari harta, makan, posisi, kursi, hingga kehidupan yang layak. Belum lagi kesibukan mengenai urusan mempertahankan seperti mempertahankan kekayaan, kedudukan, martabat, hingga mempertahankan pendapat dan harga diri.

Dan karena alasan itulah kabarnya kita tidak sempat membaca atau menyempatkan diri untuk membaca. Terlepas dari benarnya hal tersebut, semoga buku dan sedikit pandangan pembaca ini bisa bermanfaat untuk kita semua.




Reactions

Posting Komentar

0 Komentar