redup bola putih dari alas kaki hitam yang kembali
dua, tiga, empat. sang ilahi menyapa,
'rembulan tak lagi menyiasati ikatan
dan tamasyamu puan sudah sampai ditujuan'
putaran kenangan radio dikepala menjelma mawar,
menghasilkan tinta merah dan desahan sang aku
dua, tiga, empat, kuberhasil hentikan mata untuk kencing berlebihan.
tidak bisa sayang, kuku kaki dan tanganmu meronta untuk segera dipotong
maka potonglah. sebelum menghitam dan membusuk, sebelum sepasang kaki dan tangan menjadi segan untuk bersetubuh.
ego dan logikaku bermain
hanya perihal busana dan tatapan yang kubiarkan bebas
disudut ruangan ada yang berteriak meminta dirangkul
diseberang jalan ada yang berteriak memintaku menghilang
persetan
kata bapak, aku merdeka dengan pilihanku
selagi tak kutatap diseberang dan disudut
selagi kudatangi dengan langkah mereka untuk dikte yang bernada
selagi aku dan mereka tetap merdeka dalam ingatan.
ego dan logikaku bisa saja berdamai.
'mari kuku, kita satukan pupuk-ku denganmu. telah lama sejak terakhir kali kita bercinta dan aku terbebas.'
0 Komentar